Iklan
![]() |
| Bahlil Lahadalia Ketua Partai Golkar (Kiri), Safriadi Oyon, Bupati Aceh Singkil (Kanan) |
ACEH SINGKIL – Peta politik Partai Golkar di Kabupaten Aceh Singkil kembali menjadi sorotan menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Nama Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, SH, mencuat dalam perbincangan mengenai sosok yang akan menakhodai DPD II Golkar Aceh Singkil.
Pertemuan Oyon dengan Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di Jakarta pada Jumat (23/10/2026), menambah menarik dinamika politik tersebut.
Secara resmi, pertemuan itu berkaitan dengan upaya mendorong pengembangan potensi gas bumi di Blok Singkil. Namun, di tengah persiapan Musda Golkar Aceh Singkil, pertemuan dua tokoh tersebut turut memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat dan masyarakat: apakah ada dinamika politik lain yang ikut menjadi perhatian?
Tentu, pertemuan itu tidak serta-merta membuktikan adanya pembicaraan mengenai kepemimpinan Golkar di tingkat kabupaten. Namun, dalam membaca politik, posisi para tokoh, momentum pertemuan, dan dinamika internal partai kerap menjadi bagian yang menarik untuk dicermati.
Oyon atau Dulmusrid?
Musda Golkar Aceh Singkil diperkirakan menjadi salah satu agenda politik lokal yang menyita perhatian. Pertanyaan mengenai siapa yang akan memimpin partai berlambang pohon beringin itu masih mengemuka.
Apakah kepemimpinan akan kembali dipercayakan kepada Dulmusrid, atau justru beralih kepada Safriadi Oyon?
Nama Dulmusrid bukan sosok baru dalam percaturan politik Golkar Aceh Singkil. Ia pernah memimpin DPD II Golkar setelah pergantian kepemimpinan pada 2018. Sementara itu, Oyon juga memiliki rekam jejak sebagai mantan Ketua DPD II Golkar Aceh Singkil.
PENAACEH sebelumnya telah mengangkat dinamika pencalonan kedua tokoh tersebut. Dalam pemberitaan pada Agustus 2026, dukungan terhadap Dulmusrid dan kemungkinan Oyon kembali maju menjadi bagian dari pembicaraan menjelang Musda.
Oyon sendiri sebelumnya disebut mempertimbangkan pencalonan apabila mendapat kepercayaan. Ia juga pernah menyampaikan target politik Golkar, yakni meraih lima kursi DPRK, dua kursi DPRA, dan satu kursi DPR RI pada pemilu mendatang.
Target tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kepemimpinan partai tidak hanya berkaitan dengan jabatan ketua, tetapi juga menyangkut strategi membangun kekuatan politik menghadapi Pemilu 2029.
Pertemuan dengan Bahlil dan Pembacaan Politik
Dalam politik, pertemuan antara kepala daerah dan pimpinan partai di tingkat nasional dapat memiliki beragam konteks. Karena itu, penting membedakan agenda pemerintahan yang disampaikan secara resmi dengan tafsir politik yang berkembang di masyarakat.
Pertemuan Oyon dan Bahlil memiliki konteks kepentingan daerah, khususnya potensi gas bumi Aceh Singkil. Jika pengembangan sektor tersebut berjalan sesuai harapan, daerah berpeluang memperoleh manfaat ekonomi melalui investasi, kesempatan kerja, dan peningkatan aktivitas usaha.
Namun, karena Bahlil juga menjabat Ketua Umum Partai Golkar, pertemuan itu tidak terlepas dari perhatian publik yang mengikuti perkembangan Musda.
Apakah pertemuan tersebut turut membahas masa depan Golkar Aceh Singkil? Hingga ada keterangan resmi, pertanyaan itu masih terbuka dan belum dapat dipastikan.
Meski demikian, momentum pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana agenda pembangunan daerah dan dinamika partai dapat menjadi dua hal yang sama-sama diperhatikan ketika seorang kepala daerah juga memiliki rekam jejak dalam organisasi politik.
Mengingat Kembali Pergantian Kepemimpinan 2018
Dinamika kali ini juga mengingatkan publik pada pergantian kepemimpinan Golkar Aceh Singkil pada 2018. Oyon yang sebelumnya memimpin partai tersebut kemudian digantikan oleh Dulmusrid.
Peristiwa itu menjadi bagian dari perjalanan politik lokal yang kembali relevan ketika kedua nama tersebut muncul dalam pembicaraan menjelang Musda.
Namun, situasi politik saat ini tidak bisa begitu saja disamakan dengan kondisi delapan tahun lalu. Peta dukungan, komposisi pengurus, serta mekanisme organisasi dapat berubah mengikuti perkembangan internal partai.
Jika Oyon kembali maju, proses Musda akan menjadi ruang untuk menguji dukungan yang dimilikinya. Begitu pula Dulmusrid, yang memiliki rekam jejak kepemimpinan dan dukungan internal yang sebelumnya telah diberitakan.
Pada akhirnya, penentuan ketua bukan hanya soal siapa yang memiliki kedekatan dengan elite nasional. Dukungan kader, persyaratan organisasi, proses musyawarah, dan keputusan sesuai aturan partai tetap menjadi faktor penting.
Menanti Arah Golkar Aceh Singkil
Bagi Golkar Aceh Singkil, Musda bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan. Forum tersebut juga menjadi momentum menentukan arah konsolidasi organisasi dan strategi menghadapi kontestasi politik mendatang.
Ketua yang terpilih nantinya akan menghadapi tantangan membangun soliditas kader, memperkuat struktur hingga tingkat kecamatan, serta menerjemahkan target politik menjadi kerja organisasi yang nyata.
Di sisi lain, publik tentu ingin mengetahui apakah dinamika menjelang Musda akan berujung pada keberlanjutan kepemimpinan Dulmusrid atau membuka jalan bagi Oyon untuk kembali menakhodai partai yang pernah dipimpinnya.
Pertemuan Oyon dengan Bahlil kini menjadi salah satu peristiwa yang ikut mewarnai pembacaan politik tersebut. Akan tetapi, keputusan akhir tetap menunggu proses dan mekanisme resmi di internal Golkar.
Akankah Safriadi Oyon kembali menjadi Ketua DPD II Golkar Aceh Singkil, atau Dulmusrid tetap melanjutkan kepemimpinannya?
Jawabannya masih dinantikan. Yang jelas, menjelang Musda, dinamika Golkar Aceh Singkil menjadi salah satu perkembangan politik lokal yang patut dicermati.

Tutup Iklan