Iklan
![]() |
| Lokasi Pembangunan Pelabuhan CPO, di Pulo Sarok Kecamatan Singkil. (Istimewa) |
Aceh Singkil – Proyek Terminal Crude Palm Oil (CPO) di Pulau Sarok, Kabupaten Aceh Singkil, kembali menjadi sorotan. Proyek yang mulai diwacanakan pada 2014 dan ditargetkan beroperasi pada 2015 itu telah menyerap anggaran puluhan miliar rupiah. Namun hingga kini, kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sangat minim.
Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil Tahun Anggaran 2025 yang telah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, realisasi pendapatan dari sewa tanah Pelabuhan atau Terminal CPO sepanjang tahun hanya tercatat sekitar Rp1,1 juta.
Angka tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pemanfaatan aset daerah yang telah dibangun selama bertahun-tahun menggunakan anggaran pemerintah.
Terminal CPO Pulau Sarok sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu proyek strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Keberadaannya diharapkan dapat mendukung industri kelapa sawit yang menjadi salah satu sektor unggulan Aceh Singkil, sekaligus membuka peluang peningkatan PAD.
Sejak pertama kali direncanakan, pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembelian lahan, penimbunan kawasan, pembangunan talud pengaman, hingga infrastruktur pendukung lainnya. Nilai investasi yang telah ditanamkan diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Namun harapan agar terminal tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi baru belum sepenuhnya terwujud. Hingga lebih dari satu dekade sejak diwacanakan, aktivitas yang mampu memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan daerah belum terlihat.
Jika dibandingkan dengan nilai investasi yang telah dikeluarkan, pendapatan sebesar Rp1,1 juta dalam setahun tentu terbilang sangat kecil. Nilai tersebut bahkan jauh dari gambaran awal ketika proyek ini diperkenalkan sebagai salah satu instrumen untuk mendukung pengembangan industri sawit dan meningkatkan pendapatan daerah.

Tutup Iklan