Iklan

Kamis, 21 Mei 2026, 18.38.00 WIB
BISNIS

Harga Sawit Anjlok di Aceh Singkil, Efek Sentimen Pasar Usai Pernyataan Prabowo?

Iklan

Buah Tandan Segar (TBS) Kelapa Sawit 

ACEH SINGKIL — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah pabrik di Aceh Singkil dilaporkan mengalami penurunan pada Kamis (21/5/2026). Penurunan itu terjadi di tengah sorotan publik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan Indonesia tidak ingin lagi harga komoditas strategis, termasuk sawit, ditentukan negara lain.


Berdasarkan daftar harga yang beredar hari ini, sejumlah perusahaan di Aceh Singkil membeli TBS : PLB (2.730) , SSM BRD (4.300) , RPP (3.040) , SSM (2.950) Nafasindo (2.950), RKMA (2.950).Angka tersebut lebih rendah dibanding beberapa hari sebelumnya.


Humas PT Runding Putra Persada (RPP), Riki, membenarkan adanya koreksi harga di perusahaan mereka.“Kalau di kami harga sekarang Rp3.040 per kilogram. Sebelumnya Rp3.190, ada penurunan Rp150,” kata Riki, Kamis (21/5/2026).


Penurunan harga ini langsung memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pelaku usaha dan petani. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah kemungkinan munculnya sentimen pasar setelah pernyataan Presiden Prabowo terkait keinginan pemerintah agar Indonesia menjadi penentu harga komoditas nasional, bukan sekadar mengikuti pasar internasional.


Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa Indonesia sebagai produsen besar sawit tidak seharusnya terus berada pada posisi menerima harga yang dibentuk negara lain.


Namun hingga kini belum ada keterangan resmi yang menyatakan penurunan harga sawit di daerah terjadi akibat langsung dari pernyataan tersebut. Harga sawit sendiri diketahui dipengaruhi banyak faktor, mulai dari harga crude palm oil (CPO) global, permintaan ekspor, nilai tukar, stok pasar hingga respons pelaku industri terhadap arah kebijakan.


Meski demikian, di tingkat daerah, penurunan harga tetap menjadi perhatian serius. Bagi petani sawit, selisih Rp150 per kilogram bukan angka kecil karena berdampak langsung pada pendapatan harian mereka.


Di Aceh Singkil yang selama ini bergantung pada sektor perkebunan, kondisi harga sawit kerap menjadi indikator perputaran ekonomi masyarakat. Ketika harga turun, daya beli hingga aktivitas ekonomi lokal ikut terdampak.


Kini pelaku usaha dan petani masih menunggu apakah koreksi harga ini hanya penyesuaian sementara atau menjadi awal dari perubahan sentimen pasar yang lebih panjang di tengah wacana besar pemerintah mengenai kedaulatan harga komoditas nasional.

Close Tutup Iklan