Iklan
![]() |
| Status Facebook, Hasanuddin Aritonang (Tangkap Layar) |
ACEH SINGKIL – Suhu politik pasca rapat paripurna DPRK Aceh Singkil yang memanas belum juga turun. Setelah interupsi meledak dalam pembahasan APBK 2026 yang dituding “dipaksa sah”, kini muncul gelombang baru dari media sosial yang memantik kecurigaan publik.
Adalah Hasanuddin Aritonang, salah satu dari enam figur yang sebelumnya ikut terseret dalam dinamika rapat, yang mengunggah kalimat bernada sindiran melalui akun Facebook “Art Art”:
“Bergabung utk dibodohi… LBH baik TDK dapat apa”… Hati LBH tenang”
Unggahan ini langsung menyita perhatian. Waktunya yang berdekatan dengan polemik rapat paripurna membuat publik tak bisa mengabaikan keterkaitannya.
Narasi pun berkembang. Kalimat “lebih baik tidak dapat apa-apa” ditafsirkan sebagai isyarat bahwa dalam proses yang berlangsung, ada pihak-pihak tertentu yang justru “mendapat sesuatu”. Sementara yang lain, memilih berada di luar arus—meski harus menelan kekecewaan.
Spekulasi ini semakin liar. Apa yang dimaksud “tidak dapat apa-apa”? Apa benar ada pihak yang mendapatkan keuntungan tertentu? Dan jika iya, dalam bentuk apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini perbincangan di tengah masyarakat.
Di ruang publik, unggahan tersebut tidak lagi dibaca sebagai sekadar curahan hati pribadi. Banyak yang menilainya sebagai potongan kecil dari dinamika yang lebih besar—yang tidak sepenuhnya terlihat di ruang sidang.
Kondisi ini mempertegas kekhawatiran publik soal transparansi. APBK sebagai dokumen penting yang menyangkut hajat hidup masyarakat justru dibayangi isu-isu yang mengarah pada tarik-menarik kepentingan.
Jika benar ada pihak yang merasa “dibodohi”, maka persoalannya bukan lagi sekadar beda pandangan. Ini menyentuh soal kepercayaan dan integritas dalam proses pengambilan keputusan.
Namun hingga kini, belum ada klarifikasi langsung dari Hasanuddin Aritonang terkait maksud unggahannya. Pihak DPRK maupun eksekutif juga belum memberikan penjelasan untuk meredam spekulasi yang berkembang.
Yang tersisa hanyalah tanda tanya.
Apakah ini sekadar ungkapan kekecewaan? Atau justru sinyal adanya sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik proses pengesahan APBK 2026?

Tutup Iklan