Iklan
![]() |
| Karikatur: Amran Ramli, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil - Budi Harjo Sekjen Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil. |
Aceh Singkil – Klaim bahwa masuknya program revitalisasi sekolah sebagai bentuk “prestasi” kembali menuai sorotan. Sekretaris Jenderal Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS), Budi Harjo, meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil tidak menggiring opini publik dengan narasi yang dinilai keliru secara logika dan prosedural apalagi menggunakan orang lain agar terlihat berprestasi.
“Perlu diingat revitalisasi itu program pusat yang berbasis kebutuhan. Itu kewajiban yang harus diusulkan daerah, bukan medali untuk dipamerkan,” tegas Budi, Senin (23/2/2026).
Menurut Budi, program revitalisasi sudah berjalan beberapa tahun terakhir dan menggunakan basis data Dapodik masing-masing sekolah. Daerah yang masuk kategori terpencil atau memiliki kondisi bangunan tidak layak memang menjadi prioritas. Artinya, program tersebut hadir karena ada persoalan yang harus dibenahi, bukan karena capaian unggul.
“Kalau sekolahnya rusak lalu diperbaiki, itu artinya memang ada ketertinggalan. Jangan dibalik seolah-olah itu buah prestasi luar biasa,” sindirnya.
AMPAS menegaskan, ukuran keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada jumlah ruang kelas yang direhab atau besarnya anggaran yang terserap. Prestasi, kata Budi, seharusnya berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan secara terukur.
Budi merinci, indikator yang layak dijadikan ukuran antara lain
Nilai Asesmen Nasional
Rapor Pendidikan
Indeks Standar Pelayanan Minimal
Peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru
Daya saing serta capaian akademik siswa
“Infrastruktur penting, tetapi ujungnya tetap pada kualitas belajar anak-anak. Gedung boleh bagus, tapi kalau mutu stagnan, itu bukan prestasi,” ujarnya.
AMPAS juga mendorong Disdikbud agar transparan membuka data capaian mutu pendidikan kepada publik. Jika memang terjadi lonjakan kualitas dalam beberapa tahun terakhir terutama saat Amran Ramli di tunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala dinas, hal itu harus dibuktikan dengan angka resmi, bukan sekadar narasi seremonial.
“Kalau ada peningkatan signifikan selama masa kepemimpinan sekarang, tunjukkan datanya. Publik berhak tahu secara objektif,” tegas Budi.
AMPAS menilai revitalisasi seharusnya menjadi pintu masuk untuk mendorong lompatan mutu pendidikan di Aceh Singkil, bukan sekadar proyek fisik tahunan yang dijadikan etalase keberhasilan.
“Ukuran kemajuan pendidikan itu bukan seberapa banyak gedung dibangun, tetapi seberapa cerdas, berkarakter, dan berdaya saing anak-anak kita,” pungkasnya.
Jika bisa dibuktikan lonjakan kualitas mutu itu saya kira layak dipertahankan bila perlu didefinitifkan, namun jika sebaliknya sebaiknya di istirahatkan saja.tegasnya.

Tutup Iklan