Iklan

Jumat, 11 September 2026, 19.14.00 WIB
ACEH SINGKIL

SPPG Pulo Sarok Ungkap Alasan Menolak MBG Dialihkan ke Kantin Sekolah

Iklan

Sofyan, Mitra Yayasan SPPG Pulo Sarok kecamatan Singkil.

ACEH SINGKIL — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulo Sarok, Aceh Singkil, menyampaikan alasan tidak setuju apabila pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dialihkan ke kantin sekolah.


Mitra Yayasan SPPG Pulo Sarok, Sofyan, menegaskan pihaknya bukan menolak program MBG. Sebaliknya, SPPG Pulo Sarok mendukung program pemerintah tersebut. Namun, ia menilai formulasi awal pelaksanaan MBG yang saat ini berjalan masih lebih tepat dipertahankan dan diperkuat.


Ompreng MBG SPPG Pulo Sarok Distribusi Ke Sekolah 

"Kami mendukung MBG. Tetapi kalau dialihkan ke kantin sekolah, menurut kami perlu dikaji lagi. Formulasi awal yang sekarang berjalan masih lebih cocok," kata Sofyan saat dimintai respons terkait wacana pengelolaan MBG melalui kantin sekolah, Jumat (11/9/2026).


Menurut Sofyan, pelaksanaan MBG melalui SPPG membutuhkan persiapan dan investasi awal yang tidak sedikit. Pihaknya telah mengeluarkan modal untuk mendukung operasional program, termasuk membangun gedung dan menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung.


"Kami mendukung program ini dengan mendirikan gedung dan lain-lain. Artinya, modal yang kami keluarkan tidak sedikit," ujarnya.


Karena itu, apabila nantinya terdapat kebijakan untuk mengalihkan pengelolaan MBG ke kantin sekolah, Sofyan meminta proses tersebut terlebih dahulu melalui verifikasi dan perhitungan yang jelas.


Menurutnya, Badan Gizi Nasional (BGN) perlu melakukan verifikasi terhadap kesiapan dan keberadaan SPPG, termasuk biaya yang telah dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan program.


Selain ituu, Sofyan menyebut keberadaan SPPG juga memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. Operasional dapur MBG menyerap tenaga kerja lokal sehingga program tersebut turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.


"Di samping kami mendukung MBG, SPPG juga menyerap tenaga kerja masyarakat," ujarnya.


Ia juga menekankan aspek pemenuhan gizi sebagai salah satu alasan agar formulasi awal MBG tidak terburu-buru diubah. Menurut Sofyan, penyediaan makanan di SPPG dilakukan dengan melibatkan tenaga yang memiliki tugas sesuai bidangnya.


Sofyan menjelaskan struktur pengelolaan SPPG memiliki beberapa unsur, di antaranya Kepala Satuan Pemenuhan Gizi (KSPPG), akuntan, serta ahli gizi. Struktur tersebut, kata dia, dibentuk untuk mendukung pengelolaan operasional sekaligus memastikan aspek administrasi dan kebutuhan gizi berjalan dengan baik.


"Di SPPG itu ada KSPPG, akuntan dan ahli gizi. Jadi masing-masing punya tugas," jelasnya.


Keterlibatan ahli gizi, lanjut Sofyan, menjadi bagian penting dalam penyusunan dan pengawasan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat. Dengan demikian, penyediaan makanan tidak sekadar mengejar jumlah, tetapi juga memperhatikan kandungan gizi.


Sofyan berharap setiap perubahan terhadap mekanisme MBG dilakukan melalui kajian dan verifikasi yang matang. Ia menilai formulasi awal yang sudah berjalan sebaiknya terlebih dahulu dievaluasi dan diperbaiki apabila memang terdapat kekurangan.

Close Tutup Iklan