Iklan

Sabtu, 19 September 2026, 17.09.00 WIB
Opini Politik

Kampus di Subulussalam, Acara di Aceh Singkil: Sinyal Politik HRB Menuju 2029?

Iklan

Photo Bersama Usai Acara Kuliah Umum Pembukaan Tahun Ajaran Baru STIT Daarurrahmah Sepadan, Kota Subulussalam, di Langgeng Jaya, Tulaan kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Sabtu (19/9/2026).

Redaksi: PENAACEH


ACEH SINGKIL – Sebuah acara pendidikan bisa saja hanya menjadi agenda akademik. Namun ketika lokasi, tokoh yang hadir, dan latar belakang sosial-politiknya bertemu dalam satu momentum, publik tentu memiliki ruang untuk membaca lebih jauh.


Pembukaan Tahun Ajaran 2026–2027 STIT Daarurrahmah Sepadan Kota Subulussalam menjadi salah satu momentum yang menarik perhatian.


Pasalnya, kampus tersebut berada di Kota Subulussalam. Namun seremoni pembukaan tahun ajaran justru digelar di Langgeng Jaya, Desa Tulaan, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil.


Acara itu dihadiri Wali Kota Subulussalam H. Rasyid Bancin atau HRB, yang juga diketahui memiliki keterkaitan dengan lembaga pendidikan tersebut. Hadir pula Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon, pimpinan pesantren, tokoh agama dan sejumlah tokoh masyarakat.


Secara resmi, kegiatan tersebut merupakan agenda pendidikan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa acara itu merupakan bagian dari kegiatan politik atau deklarasi menuju Pilkada 2029.


Namun politik sering kali menarik perhatian publik bukan hanya dari apa yang diucapkan, tetapi juga dari di mana sebuah kegiatan dilakukan dan siapa saja yang berkumpul di dalamnya.


Lalu muncul pertanyaan sederhana.


Mengapa kampusnya di Subulussalam, tetapi pembukaan tahun ajaran justru digelar di Aceh Singkil?


Tentu ada banyak kemungkinan jawabannya. Bisa karena hubungan sosial, pertimbangan kelembagaan, kedekatan historis, jaringan pendidikan dan pesantren, atau sekadar pilihan lokasi untuk kegiatan tersebut.


Tetapi bagi mereka yang mengikuti dinamika politik Aceh Singkil, pertanyaan itu bisa berkembang lebih jauh.


Apakah ini ada hubungannya dengan Pilkada 2029?


Untuk saat ini, jawabannya belum bisa dipastikan.


Informasi mengenai kemungkinan HRB maju dalam Pilkada Aceh Singkil 2029 masih sebatas kabar yang beredar dan belum dapat dijadikan fakta politik.


Namun ada satu fakta yang membuat spekulasi tersebut menarik untuk diperhatikan.


HRB saat ini merupakan Wali Kota Subulussalam. Pada saat yang sama, ia memiliki latar belakang dan hubungan historis dengan Aceh Singkil.


Sosok HRB diketahui berasal dari Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Artinya, keterkaitannya dengan Aceh Singkil bukan sesuatu yang baru muncul menjelang momentum politik.


Di sinilah publik mulai bertanya.


Apakah kehadiran HRB dalam kegiatan di Aceh Singkil hanya sebatas kapasitasnya sebagai tokoh pendidikan dan Wali Kota Subulussalam?


Atau kegiatan semacam ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial dengan masyarakat dan tokoh-tokoh di daerah asalnya?


Sekali lagi, belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kegiatan tersebut merupakan strategi politik.


Tetapi dari kacamata politik, membangun komunikasi dan menjaga hubungan dengan masyarakat tentu merupakan bagian dari dinamika sosial yang selalu menarik diamati.


Apalagi yang hadir bukan hanya mahasiswa dan kalangan akademisi.


Ada kepala daerah, pimpinan pesantren, tokoh agama, tokoh masyarakat dan sejumlah figur penting lainnya.


Jika pola semacam ini terus berulang di Aceh Singkil, barulah publik mungkin memiliki bahan yang lebih kuat untuk membaca apakah terdapat arah politik tertentu.


Sebab Pilkada 2029 memang masih jauh.


Pendaftaran calon belum dibuka. Konstelasi politik masih sangat cair. Tokoh yang hari ini diperbincangkan belum tentu menjadi kandidat beberapa tahun mendatang.


Begitu pula sebaliknya, seseorang yang hari ini belum berbicara mengenai pencalonan bisa saja kemudian muncul dalam bursa politik.


Karena itu, terlalu dini jika acara tersebut langsung disebut sebagai kampanye terselubung.


Namun terlalu sederhana juga jika publik sama sekali tidak boleh membaca sebuah momentum dari perspektif politik.


Sebab politik tidak selalu dimulai dari baliho


Kadang ia bermula dari silaturahmi.

Dari kegiatan pendidikan.

Dari pesantren.

Dari forum masyarakat.

Atau dari pertemuan yang awalnya terlihat biasa saja.


Apakah pembukaan Tahun Ajaran 2026–2027 STIT Daarulrahmah Sepadan di Langgeng Jaya merupakan bagian dari pola tersebut?


Belum ada jawabannya.


Namun satu hal pasti: ketika seorang Wali Kota Subulussalam yang memiliki akar sejarah di Aceh Singkil hadir dalam sebuah acara besar di daerah tersebut, pertanyaan politik hampir pasti muncul.

Apakah ini hanya tentang pendidikan, atau ada pesan politik yang belum terlihat?


Publik tentu bisa membaca sendiri.

Sementara bagi HRB, jika memang tidak ada agenda politik di balik kegiatan tersebut, penjelasan mengenai alasan pemilihan lokasi acara tentu dapat menjadi bagian dari klarifikasi publik.

Sebab semakin dekat sebuah kegiatan dengan ruang publik dan tokoh politik, semakin besar pula kemungkinan publik membaca setiap langkahnya.


Pilkada 2029 masih jauh. Tetapi politik, seperti biasa, sering kali mulai dibicarakan jauh sebelum pendaftaran dibuka.





Close Tutup Iklan