Iklan
![]() |
| Ilustrasi |
Aceh Singkil – Tim II Panitia Khusus (Pansus) DPRK Aceh Singkil menyoroti aktivitas Galian C di sejumlah perusahaan dalam laporan hasil pengawasannya. Namun, ada satu pertanyaan yang justru luput dari catatan tersebut: dari mana BBM untuk mengoperasikan ekskavator diperoleh?
Pertanyaan ini menjadi relevan karena aktivitas Galian C tidak mungkin berjalan tanpa alat berat. Ekskavator mengeruk material, kemudian material diangkut menggunakan kendaraan. Semua aktivitas itu membutuhkan biaya, termasuk bahan bakar minyak (BBM).
Namun, dalam laporan Tim II Pansus yang dibacakan dalam rapat paripurna DPRK Aceh Singkil, Senin (10/8/2026), persoalan asal-usul BBM alat berat, pemasok, volume pemakaian maupun bukti penggunaan BBM tidak terlihat menjadi catatan khusus.
Pansus memang menyoroti legalitas Galian C.
Tetapi pertanyaan berikutnya justru belum terdengar: kalau ekskavatornya terus bekerja, solarnya dari mana?
Galian C Ditanya, Solar Tak Disentuh
Dalam laporan hasil pengawasan, Tim II menemukan adanya aktivitas Galian C yang disebut tidak memiliki izin pada sejumlah lokasi perusahaan.
Temuan tersebut kemudian menjadi rekomendasi agar pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan tindak lanjut.Langkah itu patut diapresiasi.Namun pengawasan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan "punya izin Galian C atau tidak?"
Ada rantai aktivitas yang juga layak diperiksa.
Siapa pemilik atau pengguna ekskavator? Dari mana BBM diperoleh? Siapa pemasoknya? Berapa kebutuhan solar per hari? Berapa pemakaian dalam sebulan? Apakah ada bukti pembelian dan pencatatan penggunaan?
Ini bukan tuduhan. Ini pertanyaan pengawasan.Apalagi Aceh Singkil belakangan menghadapi persoalan kelangkaan solar yang dirasakan masyarakat.Maka wajar jika muncul pertanyaan ketika aktivitas alat berat perusahaan tetap berjalan: apakah kebutuhan BBM mereka juga ikut diperiksa?
Perusahaan Sawit Juga Layak Ditanya
Pertanyaan serupa seharusnya diarahkan kepada perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Aceh Singkil.
Jika benar menggunakan BBM industri, berapa sebenarnya kebutuhan mereka?
Berapa volume yang dibeli setiap bulan?
Dari siapa diperoleh?
Untuk apa saja digunakan?
Dan apakah seluruh penggunaan tersebut tercatat dalam dokumen atau slip pemakaian BBM?
Jika seluruhnya sesuai aturan, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Justru keterbukaan data dapat menghilangkan kecurigaan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika aktivitas perusahaan diawasi, tetapi salah satu komponen penting yang menopang aktivitas tersebut justru tidak ikut ditelusuri.
Jangan Sampai Pengawasan Setengah Jalan
Pansus DPRK sebenarnya memiliki ruang untuk melihat persoalan secara lebih menyeluruh.Sebab, aktivitas Galian C tidak berdiri sendiri.
Ada alat berat, BBM, material, kendaraan angkutan, jalan yang dilalui hingga potensi pajak dan dampak lingkungan.Bahkan Pansus II sebelumnya menyoroti persoalan kendaraan bermuatan lebih yang dinilai berkontribusi terhadap kerusakan jalan.
Artinya, rantai persoalannya sebenarnya sudah terlihat.
Galian C → ekskavator → BBM → angkutan material → kendaraan bermuatan → jalan rusak.
Lalu mengapa persoalan BBM ekskavator tidak ikut dibedah?
DPRK Memang Lupa atau Apa?
PENAACEH tidak menemukan catatan khusus mengenai sumber BBM ekskavator, pemasok, volume pemakaian maupun dokumen penggunaan BBM dalam laporan Tim II yang dibacakan di paripurna.
Di sinilah pertanyaan publik layak diarahkan kepada DPRK Aceh Singkil.Memang lupa, atau memang belum dianggap penting?
Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika masyarakat di Aceh Singkil sedang berhadapan dengan persoalan ketersediaan solar.
Jangan sampai masyarakat harus antre mencari solar, sementara aktivitas alat berat perusahaan berjalan tanpa pernah dipertanyakan dari mana sumber BBM-nya.
Sekali lagi, ini bukan berarti perusahaan telah melakukan pelanggaran.Tetapi jika DPRK serius melakukan pengawasan, asal-usul dan penggunaan BBM juga layak diperiksa. Transparansi bukan hanya diperlukan ketika ada dugaan masalah, tetapi justru untuk memastikan tidak ada masalah.Kini, catatan Galian C sudah masuk dalam rekomendasi Pansus II.
Mungkin pada pengawasan berikutnya, DPRK bisa menambahkan satu pertanyaan sederhana:"Ekskavatornya menggunakan solar dari mana?"
Karena mengawasi Galian C tanpa melihat BBM yang menggerakkan ekskavatornya, ibarat memeriksa kendaraan angkutan tetapi lupa bertanya siapa yang mengisi tangkinya.

Tutup Iklan