Iklan
![]() |
| Kajari Aceh Singkil, Muhammad Junaidi (Kanan), Ahmad Akbar (Kiri) Calon Ketua PGRI Aceh Singkil. Senin (4/4/2026) |
Aceh Singkil – Suhu persaingan menuju kursi Ketua PGRI Aceh Singkil terus meningkat jelang Konferensi Daerah (Konferda) XXIII. Di tengah pertarungan tiga kandidat yang kian ketat, langkah Ahmad Akbar menyambangi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Singkil, Muhammad Junaidi, langsung menyita perhatian dan memantik spekulasi luas.
Pertemuan itu disebut berlangsung di ruang kerja Kajari—sebuah lokasi yang tidak sembarang orang bisa akses dalam konteks formal. Dari foto yang beredar, keduanya tampak duduk santai dan berbincang hangat di balik meja kerja, menghadirkan kesan kedekatan yang tak biasa. Momen tersebut dengan cepat menyebar di kalangan internal organisasi guru dan menjadi bahan perbincangan panas.
Di tengah kontestasi yang sensitif, setiap gerak kandidat kini dibaca sebagai sinyal. Apalagi ketika komunikasi dilakukan dengan figur strategis di daerah. Banyak pihak menilai, kehadiran Ahmad Akbar di ruang Kajari bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan indikasi adanya komunikasi yang lebih dalam—baik dalam konteks motivasi, perspektif kepemimpinan, hingga kemungkinan dukungan moral.
“Kalau sudah diterima langsung di ruang kerja, biasanya itu tamu penting. Bisa jadi ada kedekatan atau minimal komunikasi yang sudah terbangun baik,” ujar salah satu sumber yang mengikuti dinamika Konferda.
Spekulasi pun menguat. Sebagian kalangan melihat langkah ini sebagai manuver cerdas Ahmad Akbar dalam memperluas jejaring dan menunjukkan kapasitasnya membangun komunikasi lintas sektor, termasuk dengan unsur pimpinan daerah. Dalam kontestasi organisasi seperti PGRI, kemampuan membangun relasi sering kali menjadi faktor penentu, tak kalah penting dari gagasan program.
Ahmad Akbar sendiri dikenal sebagai kandidat yang membawa narasi perubahan di tubuh PGRI Aceh Singkil. Ia disebut mendorong pembenahan internal organisasi, memperkuat posisi tawar guru dalam kebijakan daerah, serta membuka ruang komunikasi yang lebih inklusif dengan berbagai pihak.
Pertemuan dengan Kajari pun dinilai sebagian pihak sebagai bagian dari upaya memperkaya sudut pandang kepemimpinan. Sosok Muhammad Junaidi dianggap memiliki pengalaman dalam menjaga integritas dan kepemimpinan institusi—nilai yang dinilai relevan bagi siapa pun yang ingin memimpin organisasi besar seperti PGRI.
Ahmad Akbar Ketika kami hubungi menyampaikan, kedatangannya ke kantor Kajari Aceh Singkil tidak lebih dari silaturahmi antara adek dengan abangnya, ditengah itu kami banyak diskusi tentang perlindungan hukum bagi guru Ketika mendidik siswa. Karena hari ini banyak sekali guru yang bermasalah dengan hukum Ketika mendidik siswa, sehingga kami memandang perlu melakukan komunikasi yang intensif dengan berbagai pihak khusus nya Aparat Penegak Hukum (APH), sehingga guru merasa nyaman dalam mendidik siswa.
"Saya ucapkan banyak terima kasih kepada pak kajari Aceh Singkil, banyak sekali masukan yang sangat konstruktif dari beliau tentang kepemimpinan yang berintegritas dan Pendidikan secara umum. Beliau berpandangan bahwa Aceh Singkil memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan, khususnya bidang Pendidikan,"kata Ahmad Akbar

Tutup Iklan