Iklan

Jumat, 24 April 2026, 15.59.00 WIB
ACEH SINGKIL

Jirin Capah Kecam Keras: Pegawai Sebut Warga ‘Orang Hutan’, Minta Sanksi Tegas

Iklan

Pegawai Kantor Camat Gunung Meriah Minta Maaf 

Aceh Singkil – Ucapan yang diduga menghina warga Cingkam oleh seorang pegawai di Kantor Camat Gunung Meriah memicu ketegangan, Jumat (24/4/2026). Insiden itu terjadi saat warga mendatangi kantor camat untuk mempertanyakan bantuan jatah hidup (jadup) yang belum mereka terima, meski mengaku sebagai korban banjir 2025.


Suasana memanas ketika terjadi adu argumen antara warga dan salah satu pegawai perempuan. Di tengah ketegangan itu, muncul ucapan yang ditafsirkan warga sebagai sebutan “orang hutan”, sehingga langsung menyulut emosi.


“Bagus kau ngomong!” teriak seorang pria di lokasi.


“Sombong kali kau ya!” sahut seorang ibu-ibu.


Pegawai tersebut kemudian meninggalkan kantor camat, namun warga tetap bertahan dan menuntut penjelasan. Tak lama berselang, pegawai itu kembali dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung. “Saya minta maaf,” ucapnya, sebagaimana terekam dalam video yang beredar.


Menanggapi kejadian itu, tokoh muda masyarakat Cingkam yang juga mantan anggota DPRK Aceh Singkil, Jirin Capah, mengecam keras ucapan tersebut. Ia menilai perkataan itu tidak mencerminkan etika seorang aparatur pemerintah.


“Bagaimana mungkin seorang pegawai berbicara seperti itu. Itu tidak pantas,” tegas Jirin. Ia juga mendesak pemerintah daerah memberikan sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terulang.


Namun, Camat Gunung Meriah, Ilvi Rahmi, memberikan klarifikasi berbeda terkait insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa ucapan pegawai tidak seperti yang dipahami dalam video yang beredar.


Menurut Ilvi, saat kejadian dirinya sedang berada di masjid untuk menghadiri pelepasan jemaah haji. Warga datang ke kantor camat dan meminta camat keluar. Pegawai yang ada saat itu bermaksud menjemput camat ke masjid.


“Pegawai itu bilang, ‘kenapa teriak-teriak, ini kantor, bukan kayak di hutan’. Tapi mungkin didengar warga seperti ‘orang hutan’, sehingga mereka marah,” jelas Ilvi.


Ia juga menyebut persoalan tersebut sebenarnya sudah diselesaikan secara kekeluargaan di lokasi. Warga dan pegawai yang bersangkutan telah duduk bersama dan saling memaafkan.


“Tadi sudah didudukkan, sudah saling minta maaf. Bahkan kepala kampung juga bilang ke pegawai, tidak usah diladeni lagi, walaupun tidak seperti yang dituduhkan, tetap minta maaf saja,” tambahnya.


Ilvi menjelaskan, pegawai tersebut sempat meninggalkan kantor karena hendak menjemput dirinya di masjid, sebelum akhirnya kembali ke kantor camat.


Meski klarifikasi telah disampaikan, polemik ini masih menyisakan reaksi di tengah masyarakat.

Close Tutup Iklan