Iklan
![]() |
| DPRK Aceh Singkil |
ACEH SINGKIL – Polemik dugaan pokok pikiran (pokir) DPRK Aceh Singkil yang sebelumnya diangkat Koordinator Lapangan Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Masyarakat (GAMPEMAS) Aceh Singkil, Ramli Manik, kini memunculkan tantangan baru dari publik.
Masyarakat mulai mendesak agar data yang selama ini disebut-sebut Ramli benar-benar dibuka secara lengkap ke publik.
Sebelumnya, Ramli dalam podcast di kanal YouTube PT Singkil Video pada Jumat malam (27/2/2026) menyebut nilai pokir DPRK Aceh Singkil mencapai Rp83 miliar dan bahkan menyatakan siap dipenjara jika pernyataannya tidak benar.
“Kalau hukum menyatakan saya salah, saya siap dipenjara,” tegas Ramli saat itu.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas di Aceh Singkil, terutama karena disampaikan di tengah memanasnya dinamika politik daerah terkait hak interpelasi DPRK dan pembahasan APBK 2026.
Namun hingga aksi unjuk rasa yang digelar pada awal Maret lalu, Ramli belum pernah mempublikasikan secara rinci dokumen yang ia klaim sebagai dasar dari angka tersebut.
Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan perubahan angka dari klaim awal. Saat dikonfirmasi PENAACEH pada Minggu (8/3/2026), Ramli menyebut data pokir yang ia miliki tidak mencapai Rp83 miliar.
“Datanya ada, tapi jumlahnya tidak sampai Rp83 miliar. Untuk tahun 2025 sekitar Rp41 miliar,” ujarnya.
Ramli juga menunjukkan dokumen yang memuat daftar nilai pokir anggota DPRK Aceh Singkil pada APBK 2025.
Dalam dokumen tersebut tercatat total pokir anggota DPRK mencapai Rp43.566.650.000 pada APBK Induk 2025, sementara saat Perubahan APBK 2025 menjadi sebesar Rp41.661.650.000.
Meski begitu, rincian penggunaan pokir tersebut belum dipaparkan secara detail.
“Soal rincian ke mana saja pokir mereka nanti akan ada episode lanjutan. Akan kita buka jika dibutuhkan,” kata Ramli.
Pernyataan tersebut justru memunculkan reaksi dari sejumlah pihak di Aceh Singkil. Banyak yang menilai jika memang data tersebut benar, maka seharusnya dibuka secara utuh agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Apalagi polemik ini sebelumnya telah memicu aksi demonstrasi besar yang melibatkan mahasiswa, pemuda dan masyarakat.
Kini publik menilai bola sepenuhnya berada di tangan Ramli Manik. Jika data yang dimaksud benar ada, maka transparansi dianggap sebagai langkah penting untuk membuktikan bahwa tudingan yang sempat mengguncang ruang publik Aceh Singkil bukan sekadar klaim tanpa dasar.

Tutup Iklan