Iklan
![]() |
| Scrinshoot dari Video yang diunggah Kabar Subulussalam |
SUBULUSSALAM — Perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala kampong (kepala desa) di Kampong Tualang, Kota Subulussalam, menjadi sorotan warganet. Persoalan itu disebut berujung pada pengusiran satu keluarga dari rumah yang selama ini mereka tempati.
Informasi tersebut mencuat setelah diunggah akun media sosial Kabar Subulussalam. Unggahan itu kemudian menjadi perhatian netizen, dengan ratusan komentar dan puluhan kali dibagikan.
Dalam unggahan tersebut disebutkan, keluarga yang menempati rumah merupakan pendukung calon kepala kampong nomor urut 02, yang kalah dalam pemilihan. Sementara rumah yang ditempati berstatus pinjaman dan disebut merupakan milik keluarga yang mendukung calon nomor urut 01, yang keluar sebagai pemenang.
Ironisnya, kedua pihak disebut masih memiliki hubungan keluarga.Pemilik rumah yang merupakan pendukung calon nomor urut 01 disebut tetap meminta keluarganya yang berbeda pilihan untuk meninggalkan rumah tersebut, meski hubungan kekeluargaan di antara mereka masih ada.
Persoalan inilah yang kemudian memancing beragam reaksi masyarakat di media sosial.
“Beda pilihan kepala kampong, keluarga sampai terusir,” menjadi gambaran yang ramai diperbincangkan netizen dalam merespons informasi tersebut.
Masyarakat Tualang yang mengetahui persoalan ini menyayangkan apabila perbedaan pilihan politik sampai berdampak pada hubungan kekeluargaan.
Sebab, kontestasi pemilihan kepala kampong sejatinya hanya berlangsung dalam momentum pemilihan. Setelah hasil ditetapkan, masyarakat kembali hidup berdampingan sebagai warga satu kampong.
Pepatah lokal kembali relevan dalam situasi tersebut:
“Mala kalak, imbang tetawa. Mala kaum, imbang tangis.”
Pepatah tersebut menggambarkan bahwa ketika orang lain mendapat musibah mungkin kita bisa tertawa, tetapi ketika keluarga sendiri mengalami kesusahan, semestinya ikut merasakan dan membantu.
Ramainya komentar dan puluhan kali unggahan tersebut dibagikan menunjukkan persoalan ini mendapat perhatian publik. Banyak netizen mempertanyakan apakah perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala kampong pantas berujung pada renggangnya hubungan keluarga.
Meski demikian, informasi mengenai pengusiran tersebut masih bersumber dari unggahan Kabar Subulussalam dan keterangan masyarakat Tualang. Belum diperoleh keterangan langsung dari pemilik rumah maupun keluarga yang disebut meninggalkan rumah tersebut.
Demokrasi boleh berbeda pilihan. Namun, ketika pemilihan selesai, jangan sampai nomor urut membuat hubungan sedarah ikut terbelah.

Tutup Iklan