Iklan
![]() |
| Mobil Menurunkan Material Tanah Timbunan Diduga Masih Muda, (Istimewa) |
Aceh Singkil – Sorotan terhadap pekerjaan proyek jalan Kilangan-Kayu Menang Rp20 Miliar, Kabupaten Aceh Singkil, belum berakhir. Di tengah munculnya dugaan material timbunan bercampur lumpur dan dipertanyakannya kesesuaian spesifikasi, aktivitas penimbunan justru disebut terus berlangsung setiap hari.
Persoalan baru yang kini menjadi perhatian bukan hanya kualitas material, tetapi juga pengawasan teknis terhadap proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, hingga kini belum terlihat Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) maupun pengawas turun langsung ke lapangan untuk memastikan material yang digunakan sesuai dengan spesifikasi pekerjaan.
Padahal, material dari wilayah galian C di Kecamatan Gunung Meriah disebut terus diangkut menuju lokasi proyek menggunakan sejumlah armada. Volume timbunan yang telah masuk diperkirakan mencapai 1.000 hingga 1.500 meter kubik, bahkan berpotensi lebih karena aktivitas pengangkutan masih berlangsung.
Material Masih Muda, Lokasi Rawa dan Gambut
Di lapangan, material timbunan disebut masih relatif muda dan diduga bercampur lumpur. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian lokasi pekerjaan diketahui memiliki karakteristik rawa dan gambut.
Namun, persoalan kesesuaian material tentu tidak cukup hanya dinilai berdasarkan pengamatan kasatmata. Kepastian apakah material memenuhi spesifikasi harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, dokumen kontrak dan bila diperlukan pengujian material.
Sebab, material yang digunakan dalam pekerjaan jalan harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana ditentukan dalam kontrak pekerjaan. Terlebih konstruksi pada kawasan dengan kondisi tanah tertentu membutuhkan penanganan dan metode pelaksanaan yang tepat.
Di sinilah peran PPTK, pengawas dan pihak teknis menjadi penting. Mereka bukan sekadar memastikan pekerjaan berjalan, tetapi juga mengawasi mutu, volume dan kesesuaian pekerjaan dengan kontrak.
Timbunan Jalan Terus, Pengawas Dipertanyakan
Pertanyaan publik kemudian mengarah kepada pengawasan.
Jika benar material terus masuk setiap hari sementara PPTK dan pengawas belum melakukan pemeriksaan langsung di lapangan, bagaimana pemerintah memastikan material yang telah ditimbun benar-benar sesuai spesifikasi?
Sebab, semakin banyak material yang masuk sebelum dilakukan pemeriksaan, semakin besar pula pekerjaan yang harus diverifikasi apabila kemudian ditemukan persoalan kualitas.
Jangan sampai pemeriksaan baru dilakukan ketika ribuan meter kubik material sudah telanjur berada di lokasi.
Jika material nantinya dinyatakan tidak memenuhi spesifikasi, tentu harus ada kejelasan mengenai langkah koreksi, termasuk siapa yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.
Dinas Teknis Diminta Jangan Pasif
Dinas teknis PUPR seharusnya tidak menunggu persoalan menjadi besar sebelum melakukan pemeriksaan.
Apalagi proyek tersebut menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar. Setiap material dan pekerjaan yang nantinya dibayarkan harus memiliki dasar pengukuran serta memenuhi ketentuan teknis yang dipersyaratkan.
Pengawasan konstruksi juga merupakan bagian penting dalam memastikan penyelenggaraan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, dugaan persoalan material semestinya segera dijawab melalui pemeriksaan lapangan, bukan hanya klarifikasi dari balik meja.
Jika material dinyatakan sesuai, pemerintah tinggal menunjukkan dasar pemeriksaan dan hasil pengujiannya. Sebaliknya, jika ditemukan ketidaksesuaian, tindakan korektif harus dilakukan sebelum persoalan semakin jauh.
Kadis PUPR Aceh Belum Merespons
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Aceh, Ir Mawardi ST, hingga berita ini ditulis belum memberikan respons atas upaya konfirmasi.
Konfirmasi antara lain terkait apakah PPTK dan pengawas telah turun ke lokasi, bagaimana hasil pemeriksaan terhadap material timbunan, serta apakah material yang digunakan telah melalui pengujian sesuai spesifikasi teknis pekerjaan.
Sebelumnya, persoalan material proyek ini juga telah menjadi perhatian setelah muncul dugaan material timbunan bercampur lumpur.
Kini, aktivitas penimbunan disebut masih terus berjalan.
Publik tentu berhak mendapatkan kepastian: apakah material tersebut benar-benar sesuai spesifikasi, dan jika sesuai, di mana hasil pemeriksaan teknisnya?
Sebab proyek bernilai puluhan miliar rupiah bukan pekerjaan kecil. Jangan sampai timbunan terus jalan, sementara pengawasan justru tertinggal di belakang.

Tutup Iklan